Rupiah oh Rupiah

Sudah beberapa hari belakangan ini, kondisi rupiah ancur-ancuran terhadap dolar, bahkan tercatat sempat  menyentuh angka Rp 11.500 per dolarnya. Saya bukanlah pakar ekonomi, dan juga tidak begitu paham tentang hal-hal yang menyangkut itung-itungan njlimet di dunia ekonomi negeri ini. Tetapi sedikit banyak, saya, dan juga mungkin jutaan masyarakat indonesia pasti merasakan hal yang serupa terkait dengan krisis global yang melanda dunia saat ini.

Ada yang yang bilang, krisis seperti ini sudah menjadi siklus yang akan berulang setiap beberapa tahun, ada juga yang cuek ga mau peduli (termasuk saya mungkin) asalkan kebutuhan sehari-hari tetap bisa terpenuhi. Mungkin yang paling pusing saat ini adalah mereka-mereka yang bermain di dunia saham, investasi dan sebagainya yang sebagian besar kegiatannya dilakukan dengan spekulasi berdasarkan analisa pasar tertentu.

Terakhir saya merasakan dampak melemahnya rupiah terhadap dolar adalah pada saat saya membeli lensa kamera beberapa waktu yang lalu. Dari harga semula Rp 2.250.000, lensa itu terbeli dengan harga Rp 2.375.000. Penjual sih bilang karena dolar sekarang tinggi sehingga harga lensa juga ikut. Kondisi serupa juga terjadi di kantor. Beberapa saat yang lalu, dilakukan pengadaan barang untuk kebutuhan alat-alat laboratorium. Salah satu CV yang memenangkan tender sampai sekarang tidak jelas rimbanya karena pada saat memberikan penawaran menggunakan patokan rupiah yang masih di kisaran Rp 9.100 per dolar, sementara sekarang sudah seperti ini. Pihak kantor juga penasaran apakah barangnya memang tidak ada atau CV nya yang pusing tujuh keliling sambil menunggu rupiah menguat lagi.

Masih teringat jelas di tahun 1998 dimana krisis moneter menghantam negara-negara di Asia tTnggara, termasuk Indonesia dan sejak saat itu semua harga-harga barang melambung tinggi, bahkan mobil sekelas Kijang yang dulunya masih di kisaran harga 60-80jt melambung tinggi menjadi 100juta lebih dan saat ini pun mobil kijang kelas LX, LGX harga bekasnya pun masih mengalahkan harga mobil baru lainnya.

Nah, apakah kemungkinan kondisi saat ini bisa berlangsung seperti kondisi di tahun 1998?  Semoga saja tidak. Beberapa hari yang lalu, saya sempat membaca artikel di sebuah majalah otomotif, di situ dikatakan bahwa pangsa pasar mobil yang berharga di bawah 200 juta adalah yang akan merasakan dampak paling besar dikarenakan sebagian besar konsumen di pasar ini membeli mobil dengan sistem kredit, sementara saat ini BI Rate juga sudah naik menjadi 9.5%. Kenaikan ini otomatis juga akan meningkatkan suku bunga yang dipakai patokan oleh pihak perbankan dan leasing yang membiayai pembelian mobil secara kredit.

Namun, terlepas dari semua kondisi di atas, saya sebagai masyarakat awam, dan mungkin juga banyak di antara kita yang begitu, akan menganggap hal ini sebgai sesuatu yang tidak perlu dijadikan topik utama. Karena topik utama yang pasti menjadi perbincangan di kalangan masyarakat awam saat ini adalah yang penting mereka bisa makan, bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan bisa menyekolahkan anak-anaknya dengan murah. Peduli amat dengan situasi ekonomi saat ini toh mereka tidak sempat memikirkan untuk membeli apartemen di Singapore, indent mobil mewah atau Harley Davidson, membeli berlian yang harganya puluhan dan bahkan ratusan juta, atau pemikiran-pemikiran lain yang jauh dari bayangan mereka.

Rupiah oh rupiah, semoga engkau cepat berjaya kembali.. ha ha ha

Mungkin Perlu Dibaca Juga...

1 Star2 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...
3,184 views