Astaga!! mungkin itu kata yang paling cocok saat saya membaca sebuah artikel hari ini di okezone.com. Artikel tersebut memuat tentang peluncuran Handphone Nokia E75 yang langsung mendapatkan tempat di hati penggila gadget di Indonesia. Bahkan tercatat 10 anggota Nokia Communicator Community telah menjadi 10 orang pertama di Indonesia yang dapat menikmati seri teranyar Nokia ini.
Yang saya heran, katanya lagi krisis global? Koq budaya prihatin hampir bisa dikatakan tidak bisa melekat pada keseharian masyarakat kita ya? Di saat ribuan karyawan di PHK dan mungki puluhan atau ratusan ribu lainnya dalam kondisi antara hidup dan mati mencari pekerjaan tetap saja ada kalangan tertentu yang berada di atas angin.
Memang sah-sah saja bagi orang yang berduit untuk membelanjakan duitnya untuk apapun, toh itu juga duitnya sendiri. Tetapi apakah budaya-budaya toleran, tepo sliro, dan prihatin tidak dapat menjadi pertimbangan meski walau sebentar? Lihat saja Amerika Serikat yang sempat colapse terkena krisis global sampai-sampai bagi kalangan tertentu di sana yang biasanya bergelimang uang terpaksa harus menjual Harley Davidson karena tidak lagi memiliki penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari.
Bagi yang tidak berkenan dengan tulisan ini, sah-sah saja untuk menilai baik positif atau negatif, tetapi setidak-tidaknya itulah yang saya rasakan saat ini, pertimbangan fungsi seharusnya lebih diutamakan daripada lifestyle. Kalau untuk fungsi berapapun harganya memang kalau harus dibeli ya harus dibeli, tetapi kalau sudah ada benda yang lebih murah yang memiliki fungsi sama apakah ini bukan mubadzir?












