Mungkin semua orang pasti tahu dan pernah menyaksikan atau bahkan hampir selalu menyaksikan tayangan program Empat Mata di Trans7 yang dipandu oleh Tukul Arwana ini. Mungkin juga orang mulai menyadari bahwa tayangan ini sebenarnya sudah tidak begitu ngetrend lagi tidak seperti pada jaman awal-awal penayangannya yang berhasil membuat nama Tukul dengan slogan “tak sobek-sobek”nya sangat terkenal, bahkan di kalangan selebritis Indonesia.
Baru-baru ini program Empat Mata dinyatakan tidak layak tayang oleh KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) dengan alasan banyak tampilan, adegan dan topik yang ditayangkan tidak sesuai dan melanggar pedoman perilaku penyiaran dan standar program siaran (P3-SPS). Keputusan KPI ini dipicu oleh penayangan Sumanto (si pemakan bangkai) yang sempt menghebohkan masyarakat beberapa tahun yang lalu. “Soemanto telah dinyatakan sakit jiwa. Dia itu kan seorang napi yang pernah memakan bangkai. Ini tidak sesuai dengan dengan P3-SPS Pasal 28 ayat 4. Ditambah waktu itu Soemanto tidak ngerti soal pertanyaannya,” ucap Fetty Fajriati Misbach, Wakil Ketua KPI (seperti dimuat di situs detikhot pada 4-11-2008 yang lalu). Tidak hanya itu saja, dari yang pernah saya perhatikan (karena saya tidak begitu sering menonton), banyak sekali tampilan di dalam program ini yang sebenarnya dapat dikategorikan ke dalam pelecehan seksual atau jika tidak sekasar itu dapat dibilang selalu berbau seks. Entah itu diskusi yang dilakukan oleh pemandu acara dengan bintang tamu, ataupun adegan-adegan yang disajikan di dalamnya.
Saya pribadi sebenarnya heran dengan kondisi psikologis masyarakat Indonesia yang kelihatannya menyukai model-model tayangan seperti Empat Mata ini. Kalo ditinjau dari sisi kualitas, saya rasa tayangan seperti ini sebenarnya tidak membawa manfaat apa-apa, karena topik-topik yang disajikan sebenarnya tidak ada yang bermuatan serius, hampir 90% adalah bersifat lelucon garing yang tidak lucu. Parahnya, masyarakat tampaknya kurang begitu mendapatkan hiburan yang layak dari televisi sehingga tayangan-tayangan seperti ini dapat menarik peminat yang cukup luar biasa.
Kalo dihitung-hitung, mungkin saya hanya beberapa kali saja sempat menonont tayangan Empat Mata, karena pada dasarnya saya sendiri tidak begitu interest terhadap tayangan-tayangan yang ada di televisi nasional. Sehari-hari, mungkin yang saya tonton dari stasiun televisi nasional adalah paket program berita dan hampir tidak ada tayangan lain apalagi sinetron yang pernah saya tonton. Inilah mengapa sejak beberapa bulan yang lalu ketika anak saya mulai menunjukkan daya tariknya terhadap tontonan televisi, saya memutuskan untuk berlangganan TV satelit yang notabene tayangannya jauh lebih berkualitas baik dari sudut pandang pendidikan, hiburan, berita atau informasi.
Mengenai penghentian tayangan oleh KPI, saya rasa sudah cukup fair mengingat dampak psikologis dan edukatif yang dapat terjadi terutama pada anak-anak kita, yang notabene sangat kritis terhadap lingkungan di sekitarnya. Tidak saja untuk program Empat Mata, mungkin sudah tiba waktunya bagi KPI untuk mulai menunjukkan ketegasannya terhadap tayangan-tayangan televisi nasional yang lain, semisal Indosiar dan SCTV yang belakangan ini dapat dikatakan sudah tidak layak tonton lagi: masak tiap hari koq cuman sinetron mistik (Indosiar) dan reality show ga jelas (SCTV)!
Oleh karena itu marilah kita lindungi keluarga kita dari tayangan-tayangan televisi yang tidak sehat!













One Comment
betul mas