Pernah lihat iklan Fren? Saya tidak bermaksud mendisikriminasi salah satu produk seluler, melainkan tiba-tiba saja muncul keinginan untuk menulis setelah melihat iklan Fren. Apabila ada pihak yang keberatan dengan tulisa n saya, silahkan mengajukan keberatan lewat form contact yang tersedia. Namun, mari kita semua dewasa dalam bersikap dan melihat segala sesuatu dari perspektif yang berbeda. Dengan demikian, hidup ini akan menjadi lebih indah dan demikian pula, indahnya menapaki hidup akan semakin berarti dan bermakna.
Dengan semakin semaraknya perang iklan operator seluler baik di media televisi maupun media elektronik, saya rasa perusahaan pengiklan maupun rumah produksi iklan semakin aneh dan aneh, atau mungkin sudah kehabisan ide ya ha ha ha. Pada salah satu iklan Fren di media cetak, di situ dipampang besar-besaran gambar seorang wanita dan tiga orang pria yang “berpakaian daun”, mirip-mirip tarzan gitu.
Yang saya heran, kenapa semakin banyak perusahaan iklan mengusung ide manusia primitif yang hanya memakai pakaian ala tarzan. Ada yang yang mengusung monyet sebagai ikon, ada yang mengusung kambing dan sebagainya. Dan kali ini Fren mengusung ide DAUN. Mungkin ide ini terinspirasi oleh guyonan sehari-hari kalau orang melihat sesuatu barang yang malah atau misalnya rumah trus temannya bilang “mau beli rumah?”, nah orang tadi menjawab dengan enteng “Mau dibayar pake duit gambar daun?” atau lebih enaknya pernyataan ini biasa diungkapkan dalam bahasa Jawa “Dibayar nggawe duwit gambar godhong?”.

Nah, mungkin ide DUIT DAUN ini bisa dipakai, tetapi yang saya heran di sini, kenapa ada gambar wanita yang telanjang bahu (ha ha ha) dan hanya berkemben (kain wanita jaman dulu yang dibelitkan di tubuh) DAUN?
Saya bukan ahli periklanan atau desain komunikasi visual, tetapi menurut saya, iklan-iklan seperti ini bisa dibilang tidak mendidik. Saya yakin, jika melihat iklan seperti ini, yang dilihat pertama kali bukan DAUNNYA, tetapi gambar wanita dan pria yang bertelanjang bahu tersebut. Saya bukan sok suci atau berlagak jadi kyai.. tapi apa ga ada ide lain yang lebih mengena selain eksploitasi tubuh wanita?
Aneh aneh… jaman semakin edan … saya jadi ingat serat Jongko Joyoboyo:
Jamane jaman EDAN, sing ORA EDAN ora KADUMAN.
Sing WARAS padha NGGRAGAS, sing TANI padha DITALENI.
Wong dora padha ura-ura. Begjane sing eling lan waspada.
Nah, sekarang tinggal kita mau ikut edan atau mau ga keduman (tidak kebagian), ha ha ha ….













7 Comments
di akhir zaman akan ada istilah pagi kafir sore muslim, pagi muslim sore kafir.
[Reply]
amin…
[Reply]
ada-ada saja
[Reply]
Disamping melecehkan wanita, juga melecehkan negara. Sebab daun bukan alat pembayaran yang sah di negeri ini.
[Reply]
Iklan yang baik itu adalah iklan yang mempuanyai 3 kriteria yaitu : It Works (mencapai tujuannya), It Organizes (ditata dengan baik) dan It Attracts (menarik bagi khalayak).
Sebuah iklan dapat bekerja dan mencapai tujuannya bila pesan-pesan yang akan disampaikan dapat segera ditangkap dan dipahami oleh khalayak dengan suatu cara tertentu. Selanjutnya, sebuah iklan harus ditata dan dipetakan secara baik supaya khalayak dapat berpindah dari satu bagian ke bagian yang lain dan memahami isi pesan. Akhirnya, sebuah iklan harus menarik untuk mendapatkan perhatian yang cukup dari Khalayak. Kunci utama untuk membuat iklan yang baik adalah pemahaman secara mendalam ketiga kriteria diatas.
[Reply]
@dunia advertising…
thanks udah mampir…
[Reply]
kalo serat kolotido yang lengkap ada ndak ya
[Reply]
eko wah yu.s Reply:
January 25th, 2010 at 1:52 pm
kebetulan belum nemu… thanks udah mampir
[Reply]