Barusan saya mendapati pertanyaan yang mengagetkan dan selama ini tidak saya sadari. Selama ini, dari yang saya baca, dan juga dari sharing teman-teman, aturan ibu jari atau Rule of Thumb dalam hal shutter speed saat mengambil gambar adalah 1/focal length. Jadi misalnya, jika kita menggunakan lensa 17-40 dan mengambil gambar pada FL 17mm (wide), shutter speed minimal agar menghasilkan gambar yang tidak blur akibat camera shake (goyang pada kamera) adalah 1/17 detik. Perlakuan yang sama jika menggunakan lensa tele, saat mengambil gambar pada FL 200mm, maka minimal shutter speednya adalah 1/200. Nah, pertanyaan yang diajukan teman tadi adalah “BAGAIMANA DENGAN KAMERA YANG MEMILIKI CROP FACTOR 1.6 (APS-C CAMERA), SEPERTI 400d, 450D DAN SEMUA KAMERA NON-FULL FRAME?”
Saya benar-benar baru menyadari bahwa FL pada kamera APS-C sebenarnya bukanlah seperti yang tertera pada lensa. Jadi misalnya pada saat menggunakan lensa tele, pada FL 200mm, sebenarnya kita saat itu menggunakan lensa dengan FL 320mm. Wooowww, padahal lensa 400mm berapa ya harganya? Nah, kalau sudah begitu, bagaimana dengan aturan minimum shutter speed? apakah masih 1/200 detik ataukah 1/320 detik?
Kebetulan saya langsung mencari-cari informasi dengan memasukkan kata kunci yang kebetulan tepat sasaran. Akhirnya saya mendapatkan pencerahan dan berikut ini adalah versi terjemahan bebasnya.
Aturan ibu jari shutter speed telah diterapkan pada kamera film 35mm selama berpuluh-puluh tahun. Oleh karena itu, beberapa fotografer dapat mengambil gambar lebih lambat daripada shutter speed sesuai dengan aturan ibu jari tersebut dan mendapatkan gambar yang tajam. Sementara itu fotografer lainnya harus melipat gandakan atau bahkan menambah tiga kali lipat shutter speed untuk mencegah blur karena gerakan pada kamera. Damun demikian, rata-rata aturan ibu jari ini dapat menjadi awal yang cukup layak bagi sebagian fotografer.
Oleh karena itu – untuk kamera APS-C, penting sekali bahwa aturan ibu jari pada kamera film 35mm tidak langsung dapat diterapkan apa adanya. Alasannya sangat sederhana:
Anggap saja gerakan kamera pada kamera film 35mm yang menggunakan lensa 100mm dan menggunakan shutter speed 1/100 detik menghasilkan blur pada film negatif sepanjang 0.1mm. Perbesar film negatif tersebut (24mm x 36mm) menjadi cetakan ukuran 8” x 12”. Blur karena gerakan tadi sekarang menjadi berukuran 0.0846 pada cetakan karena cetakan ukuran 8×12 adalah 8.46 kali lebih besar daripada film negatif 35mm. Blur sepanjang 0.486mm ini cukup kentara jika orang jeli saat melihat hasil cetakannya.
Sekarang, pasang lensa 100mm pada kamera 30D (dengan sensor berukuran 15.0 mm x 22.5mm). gunakan shutter speed yang sama sebesar 1/100 detik, dan lakukan gerakan pada kamera yang sama, sehingga menghasilkan blur sebesar 0.1mm pad sensor. Sekarang kita akan mencetak ukuran 8” x 12” dari gambar yang dihasilkan oleh kamera 30D tersebut. Cetakan ukuran 8×12 itu sekarng 13.54 kali lebih besar daripada sensor 30D, sehingga kita memperbesar blur berukuran 0.1mm tersebut sebesar 13.54 kali dan blur tersebut sekarang menjadi berukuran 1.354mm pada cetakan. Ini tentu saja jauh lebih besar daripada blur pada cetakan yang dihasilkan dari film negatif 35mm. Nyatanya, jika anda membagi 1.354 dengan 0.846, anda akan mendapatkan “angka ajaib” sebesar 1.6.
Jikalau kita mengambil gambar menggunkaan kamera 30D dengan shutter speed yang lebih cepat, misalnya 1/160 detik (pembagi 100mm dikalikan 1.6), maka blur 0.1mm pad sensor akan berkurang menjadi 0.0625mm dan bukan lagi 0.1mm. Selanjutnya, ketika kita memperbesar gambar tersebut menjadi cetakan ukuran 8×12 (sekali lagi menggunakan perbesaran 13.54), maka kita akan mendapatkan blur sebesar 0.846 pada cetakan seperti yang kita peroleh pada cetakan dari film negatif 35mm.
Jadi anda bisa melihat bahwa jika segala sesuatu yang lain adalah sama (jumlah gerakan pada kamera, panjang fokus/focal length), akan ada blur karena gerakan yang lebih besar pada kamera format APS-C daripada kamera film 35mm (atua DSLR “full frame”) pada cetakan akhirnya. Kita bisa menghilangkan perbedaan tersebut jika menggunakan shutter speed yang lebih tinggi pada kamera APS-C.
Yang perlu digaris bawahi adalah bahwa untuk mendapatkan hasil dari aturan ibu jari 1/focal length (untuk kamera film 35mm) agar sejalan dengan kamera APS-C, kita harus mengubah rumus menjadi 1/(focal length x 1.6). Ini adalah fakta yang tidak dapat diragukan lagi ketika kita berhitung secara matematis.
Sebagai tambahan, jika anda memotong gambar pada pemrosesan akhir, setiap blur yang disebabkan oleh goncangan pada kamera (camera shake) akan diperbesar lagi pada cetakan.
Jadi, kesimpulannya, aturan ibu jari harus diamandemen dan dianggap tidak lagi berlaku demi hukum ha ha ha ha ….












