Hyperfocal Distance – pengertian dasar (1)

Bagi penyuka landscape photography, istilah hyperfocal distance (jarak hiperfocal) mungkin tidak begitu asing. Tetapi bagi pemula dan pembelajar yang memulai menyukai landscape photography seperti saya, tentu istilah ini perlu ditelusuri lebih lanjut. Selama ini prinsip yang saya pakai dalam landscape photography sangat sederhana dan amatir sekali: asal obyek masuk ke frame jepret deh, he he he. Ternyata ada hal-hal yang perlu dipahami secara lebih serius jika ingin memfokuskan diri ke dalam landscape photography.

Sebagai awalan, ulasan yang nanti saya bahas ini bukanlah hasil pemikiran saya sendiri, melainkan saya peroleh dari berbagai sumber dan juga hasil menerjemahkan sumber-sumber berbahasa Inggris, jadi jika ada pihak yang merasa keberatan dengan pencantuman tulisan ini, silahkan manfaatkan form contact dan saya dengan senang hati akan menindaklanjutinya. Yang jelas, setiap pencantuman tulisan orang lain pasti akan saya sertakan sumbernya (baik secara langsung maupun hyperlink). Hal ini saya kemukakan terlebih dahulu demi menghormati dan menjunjung tinggi hak kekayaan intelektual seseorang. Namun, dalam rangka proses pembelajaran bagi semua pihak, pencantuman tulisan pihak lain saya rasa sangat sah karena tidak ada satupun tulisan di dunia ini yang sifatnya melekat pada pribadi. Setiap pribadi hanya memiliki kelebihan dalam hal mengolah kata dan mempraktekkan ilmu, dan pihak lain (seperti saya) mungkin hanya memiliki kelebihan dalam hal menyerap ilmu tersebut tanpa bisa menciptakan sendiri.

Baiklah, langsung saja ke pokok permasalahan: Hyperfocal Distance. Dari beberapa sumber yang saya peroleh, berikut ini adalah beberapa pengertian tentang hyperfocal distance. Pada bagian 1 ini pembahasan akan dibatasi pada seputar pengertian dasar hyperfocal distance.

  1. Fokuskan lensa pada hyperfocal distance dan segala sesuatu mulai dari jarak paling dekat sampai tak terhingga akan tajam. Foto landscape seringkali diambil menggunakan lensa ayng difokuskan pada hyperfocal distance; obyek yang dekat dan jauh akan tajam di dalam foto tersebut.
  2. Jarak dari lensa ke suatu titik focus dimana dari titik focus tersebut ke infinity (tak terhingga) adalah tajam. Tambahan: setengah dari jarak dari titik tersebut kearah lensa juga ikut tajam (acceptable sharpness).  Ini dikarenakan sebetulnya kita meletakkan titik focus dari kamera/lensa kita pada titik jarak hiperfocal tersebut untuk mendapatkan bidang DOF (depth of field) seluas-luasnya dari titik/jarak tersebut ke infinity (tak terhingga) tapi kurang lebih setengah jarak dari titik tersebut kedepan (kearah) lensa juga ikut tajam dalam batasan acceptable sharpness (ketajaman yang masih bisa diterima).
  3. Hyperfocal distance adalah jarak dimana semua obyek dapat dimasukkan ke dalam fokus “yang dapat diterima”. Berdasarkan nilainya, ada dua pengertian tentang hyperfocal distance. Pertama, hyperfocal distance adalah jarak terdekat dimana lensa dapat difokuskan sementara obyek pada jarak tak terhingga tetap tajam; yakni jarak fokus dengan depth of field maksimal. Ketika lensa difokuskan pada jarak ini, semua obyek pada jarak setengah hyperfocal distance sampai ke tak terhingga akan tajam. Pengertian kedua, hyperfocal distance adalah jarak dimana semua obyek tampak tajam, untuk lensa yang difokuskan pada titik tak terhingga. Kedua pengertian ini tidak perlu menyebabkan kebingungan karena pada dasarnya sama.

Dari ketiga penjabaran di atas, pada dasarnya adalah sama. Intinya di sini adalah pada landscape photography, semua obyek yang akan difoto harus tajam, tidak ada out of focus, background blur (bokeh) atau apapun (dalam batas toleransi tertentu).

Gambar di bawah ini bisa dijadikan patokan.

Pada gambar tersebut, titik fokus yang dijadikan acuan adalah gambar pohon ketiga dari fotografer. Nah, karena titik fokusnya di situ, maka bidang ketajaman atau depth of field yang akan diperoleh adalah dari 1/2 hyperfocal distance sampai tak terhingga. Dengan teknik ini, maka gambar yang diperoleh akan tampak “tajam semua”.

Pada konsep landscape photography dan hyperfocal distance, penggunaan lensa sangat menentukan. Biasanya, lensa yang cocok digunakan untuk pengaplikasian hyperfocal distance adalah lensa normal dan wide-angle. Ini dikarenakan lensa tipe ini memiliki hyperfocal distance yang relatif pendek jika aperture diset pada angka besar (bukaan kecil). Misalnya hyperfocal distance untuk lensa 17mm yang diset menggunakan aperture 1/16 pada kamera 35mm (full frame) adalah sekitar 0.6 meter. Sehingga segala sesuatu yang berjarak mulai 0.3 meter sampai tak terhingga akan tampak tajam.

Lensa tele sangat jarang dipergunakan untuk pengaplikasian hyperfocal distance karena lensa seperti ini memiliki hyperfocal distance yang relatif jauh. Misalnya hyperfocal distance untuk lensa 200mm yang diset menggunakan aperture 1/16 pada kamera 35mm (full frame) adalah sekitar 83 meter! Sehingga segala sesuatu yang berjarak mulai 41.5 meter sampai tak terhingga akan tampak tajam. Oleh karena itu lensa tele kurang begitu cocok digunakan untuk landscape photography karena obyek yang dekat di depan anda tidak akan tampak tajam.

Dari mana angka-angka di atas diperoleh? Ada rumusnya, namun sementara tidak sampai ke pembahasan perhitungan dulu deh.. nanti kalo ada waktu lagi dilanjut ke perhitungan.

… to be continued

sumber: FN, DoFmaster, Wikipedia

Mungkin Perlu Dibaca Juga...

1 Star2 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...
5,931 views

9 Comments

  1. Posted March 12, 2009 at 11:12 am | Permalink

    terima kasih atas artikelnya, bermanfaat bgt nih buat saya.
    salam kenal.

  2. Posted April 26, 2009 at 2:48 pm | Permalink

    terima kasih pak tutorialnya, sangat bermanfaat :)

  3. admin
    Posted April 26, 2009 at 5:40 pm | Permalink

    terima kasih telah mampir… kita sama-sama belajar koq :)

  4. Andry latansa
    Posted May 23, 2009 at 3:23 pm | Permalink

    Makasih infonya..akhirnya rade gamblang juga..salam kenal

  5. firman
    Posted September 10, 2009 at 10:40 pm | Permalink

    thanks, nendang banget nih

  6. TIA WIDYASTINI
    Posted September 28, 2009 at 3:32 pm | Permalink

    Apa sich pengertian distance

  7. eko wah yu.s
    Posted September 30, 2009 at 10:52 am | Permalink

    @Tia…

    secara literal, distance bisa diartikan sebagai jarak.

  8. Posted January 13, 2010 at 10:58 am | Permalink

    bagus buat pelajaran produktifku

    eko wah yu.s Reply:

    terima kasih sudah mampir ….

  9. Antok
    Posted May 6, 2010 at 2:34 pm | Permalink

    Thannk sharingnya…
    mau tanya, ketika saya menghitung HF distance menggunakan DOFmaster on line (Nikon D90, tokina 11-16,f/22, ketemu jarak HF 0,28m) ketika saya fokuskan pada jarak tersebut, saya liat di viewfinder koq jarak kira2 50m sudah blur/out of focus? apakah ini cuma kenampakan di viewfinder, atau saya salah mengaplkasikan?

    terima kasih sebelumnya

    salam

    eko wah yu.s Reply:

    masak sih … coba ditulis di sini, parameter yang anda masukkan ke DoF master..

    harusnya kalo bener, baik FG maupun FG yang jauh tetep fokus (meskipun dalam taraf acceptable focus), dan tidak blur…