«

»

Apr 20

Hybrid MTB – mengembalikan arti bersepeda ke jalan yang benar

Seolah-olah penulis masuk ke jurang kegelapan saja sehingga harus dibawa kembali ke jalan yang benar hahahaha…. tapi memang sedikit banyak ada benarnya juga.

Saya mengawali bersepeda di awal tahun 2006-2007 dengan genre Light XC, bahkan cenderung bisa dikatakan ke arah ROAD bike dengan sepeda MTB. Artinya bersepeda melalui jalan aspal di perkotaan dengan sedikit sentuhan perkampungan adalah yang saya lakukan pada awal-awal mengenal sepeda.

Dengan gaya bersepeda seperti ini, otomatis tujuan utama bersepeda bisa tercapai dengan maksimal, yaitu membakar kalori, lemak, menguras keringat, melatih nafas dan jantung serta otot kaki. Lambat laun, gaya bersepeda pun berubah sejak mengenal nikmatnya bersepeda blusukan ke hutan atau dengan kata lain XC Trail dan mengarah ke AM. Bahkan terakhir, saya sempat mencicipi track Downhill mengunakan sepeda AM.

Memang sensasi bersepeda seperti ini sangat luar biasa. Dengan adrenaline rush yang begitu menggoda, diselingi suasana alam yang indah dan udara yang sejuk, tak lupa selalu menyempatkan memasak kopi dan mie instan di hutan, semuanya merupakan sensasi dalam bersepeda di alam bebas.

Tetapi, tujuan bersepeda secara fisik menjadi sedikit hilang, karena kecenderunganya, track yang dilalui lebih banyak yang konturnya menurun. Dan memang track seperti inilah yang benar-benar memacu adrenaline. Untuk menuju ke titik start, biasanya kita mengguakan kendaraan pickup atau truck, baru setelah itu kita cari track blusukan dengan kontur menurun dengan kecepatan tinggi.

Belakangan, setelah sepeda XC saya kembali dari mati surinya, saya mencoba untuk mengembalikan spirit dan soul bersepeda yaitu latihan fisik. Dan baru beberapa hari yang lalu saya memutuskan untuk mengganti ban sepeda XC saya dengan ban sepeda ROAD … sehingga lahirlah jenis sepeda baru yang selama ini belum pernah saya pakai … HYBRID MTB. Yah…. sepeda MTB namun dengan rasa dan konfigurasi ROAD.

Hanya 1 komponen saya yang saya ganti, yakni ban. Semula menggunakan kombinasi ban Schwalbe Rocket Ron 2.25 di depan dan Schwalbe Racing Ralph 2.25 di belakang, saya ganti dengan Maxiss Detonator 1.25 … WOW … 100 drops pada ukuran ban…..

Harapannya, dengan ban seperti ini, rolling resistance bisa dibilang sama sekali tidak ad, namun dengan grip ke aspal yang tetap mumpuni. Dan setelah saya test pagi tadi dengan jarak 12km, cukup lumayan signifikan hasilnya … kondisi nanjak pun masih bisa menggnkaan kombinasi chainring 44T x 11T meskipun dengan sedikit bantuan kayuhan sambil berdiri. Rangkuman test ride bia endomondo bisa dilihat di bawah.

Ada sedikit kekurangan yang mungkin ke depan bisa diminimalisir dengan penggantian parts. Seatpost masih kurang panjang (seatpost bawaan sudah saya potong karena main XC-Trail), juga crank 44T rasanya masih bisa dinaikkan lagi kapasitasnya menjadi 48T.

Selanjutnya big plans ahead adalah menyatukan hati dan pikiran untuk mulai ber BIKE TO WORK.

Semoga ….

road-2

 

slim and slick

road-3

agak culun dikit tapi yang penting fungsinya

road-4

lucu ….hihihiihihi

 

Screenshot_2014-04-20-07-28-09

 

rangkuman trip via endomondo

3 comments

  1. Sepeda Hybrid Touring

    Sepeda hybrid sangat cocok buat comuter. Karena bannya gede jadi enteng dan kencang… Maknyus

  2. danu

    om, itu ban dalamnya gak perlu ganti kah? punya saya 26×2.1 pgn ganti detonator 1.5 juga nih biar lbh ngacir.

  3. gian

    Om, mau tanya…
    kalo ganti ke ban 1,25 rim nya perlu diganti ga?
    atau rim 26″ itu universal bisa dipakai dengan ukuran ban luar manapun?
    (newbie lagi rakit hybrid nih)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>